Opini  

Cinta Berujung Malapetaka

Oleh: Salma, S.Pd

Katanya, hidup tanpa cinta itu bagai taman tak berbunga. Ada juga yang mengatakan bahwa hidup tanpa cinta bagai sayur tanpa garam. Namun nyatanya, kebanyakan cinta di era ini lebih mengarah ke frasa “Kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat.”

Ya, begitulah adanya. Cinta mampu membuat yang tengah dilanda kasmaran kehilangan logika. Apa pun bisa dilakukan demi cinta, tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang akan terjadi kelak. Demikianlah yang telah terjadi di bumi Borneo.

Melansir dari tribunnews.com, seorang wanita berinisial AVI (22) diringkus polisi atas kasus pembunuhan. Perempuan yang berdomisili di jalan Bung Tomo, kecamatan Samarinda, kota Samarinda, Kalimantan Timur itu nekad membunuh bayi yang baru saja dilahirkannya lalu dimasukkan ke termos nasi, Rabu (13/12/2023).

Tanda tanya pun memenuhi benak. Mengapa seorang ibu bisa begitu jahat membunuh buah hatinya sendiri? Setelah ditelusuri, ternyata AVI tega membunuh bayi lantaran malu melahirkan anak dari hubungan di luar nikah. Terlebih sang pacar yang menghamili tak mau bertanggung jawab. Astaghfirullah al adzim, miris sekali bukan?

Di sisi lain, anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Fitri Maisyaroh mengaku cukup prihatin. Hal ini karena ia menerima laporan bahwa setiap tahun tercatat sebanyak 1.000 kasus remaja yang hamil di luar nikah.

Baca Juga  "Utang Aman Dan Terkendali Adalah Pernyataan Berbahaya"

“Lebih memprihatinkan lagi, mereka yang terjaring kasus itu sebagian masih berstatus pelajar,” ungkap Fitri kepada kaltimfaktual.co, (22/5/2023).

Dampak Penerapan Sistem Sekularisme Liberal

Hamil di luar nikah akibat gaul bebas semakin marak terjadi. Fakta miris di atas terjadi akibat diterapkannya sistem sekularisme liberal dalam kehidupan. Sistem ini telah berhasil memisahkan agama dari kehidupan. Imbasnya, menjadikan kaum muslimin tidak memahami aturan agamanya sendiri. Sehingga, masyarakat terkhusus para remaja cenderung menjadikan kesenangan biologis sebagai puncak kenikmatan. Walhasil terjadilah pergaulan bebas.

Cinta yang seharusnya berbuah pahala dalam ikatan suci pernikahan, malah mengakibatkan malapetaka karena disalurkan lewat aktivitas pacaran dan seks bebas. Maka tak heran bila banyak terjadi kehamilan di luar nikah, aborsi, dan bahkan pembunuhan anak.

Selain itu, penggunaan media sosial di sistem ini turut jadi andil kerusakan moral. Banyaknya konten bucin sejoli yang berstatus pacaran bermunculan di sosial media. Konten tersebut pun menjadi tontonan para remaja yang pada akhirnya menjadi pemakluman akan perilaku pacaran. Hal itu jugalah yang menjadi pintu perzinahan.

Baca Juga  Konser Coldplay: Matinya Empati Secara Sistemik

Banyaknya kasus hamil di luar nikah, aborsi, dan pembunuhan anak menjadi bukti bahwa negara sudah gagal melindungi remaja. Semua kegagalan itu, tak lain dan tak bukan diakibatkan oleh penerapan sistem sekularisme liberal di negara ini.

Islam Solusi Paripurna

Islam menerapkan beberapa langkah jitu dalam memberantas pergaulan bebas di kalangan remaja, mulai dari pencegahan (preventif), hingga yang kuratif. Berikut langkah-langkah yang diterapkan Islam.

Pertama, keimanan individu dibentuk dengan pembinaan dan sistem pendidikan. Islam sangat menjaga perilaku manusia agar tidak menyimpang dari fitrah penciptaan hawa nafsu dalam dirinya.

Remaja diajarkan bahwa pacaran amat dilarang dalam agama Islam. Cinta atau gharizah nawu’ hanya diwujudkan dalam pernikahan hubungan suami isteri, bukan melalui aktivitas pacaran. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tidak boleh antara laki-laki dan wanita berduaan kecuali disertai oleh muhrimnya, dan seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali ditemani oleh muhrimnya.” (HR. Muslim)

Kedua, kewajiban menutup aurat. Di dalam khazanah syariat Islam sudah dikenal batasan aurat. Tidak boleh menampakkan aurat kecuali kepada mahramnya. Perintah ini terdapat dalam surat an-Nur ayat 31 dan al-Ahzab ayat 59.

Baca Juga  Perlunya Pendidikan Berbasis Moderasi dalam Menghadapi Tantangan Ekstremisme Agama

Ketiga, tidak mengumbar kecantikan di depan publik, terlebih di sosial media. Acara yang mempertontonkan aurat juga tidak boleh ditayangkan. Allah SWT menerangkan hal ini dalam surat al-Ahzab ayat 33.

Keempat, perintah menjaga pandangan, sebagaimana dinyatakan dalam surat an-Nur ayat 30 dan 31. Jadi bukan hanya lelaki yang diminta untuk menjaga pandangan, tetapi perempuan juga.

Kelima, negara memberikan kemudahan dalam menikah. Tidak mahal dan berbelit-belit seperti euphoria pernikahan di zaman sekarang. Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan yang paling besar mendatangkan berkah Allah untuk suaminya adalah perempuan yang paling ringan maharnya.” (HR. Ahmad, Hakim, Baihaqi)

Masih banyak lagi aturan Islam yang mampu melindungi umat manusia dari malapetaka yang ditimbulkan cinta. Maka, agar masyarakat terhindar dari bahaya pergaulan bebas karena cinta, seruan mengkaji dan mendakwahkan Islam Kaffah sangat perlu untuk digaungkan. Jika aturan Islam diterapkan, in syaa Allah manusia akan hidup dalam kebaikan dan keberkahan. Wallahu a’lam bi ash shawwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *