Opini  

Konser Coldplay: Matinya Empati Secara Sistemik

Oleh: Munawwarah Rahman/Praktisi Pendidikan

Setelah berhasil menggelar konser Blackpink bulan April lalu dengan jumlah penonton sebanyak 140.000 orang, kini jagat maya kembali diramaikan oleh grup band asal inggris atau Coldplay yang juga rencananya akan menggelar konser akbar di Gelora Bung Karno pada November mendatang.

Melalui media Beritasatu.com – pihak PK Entertainment selaku promotor resmi konser Coldplay menegaskan pada bulan Mei ini tepatnya tanggal 17-18 Mei 2023 penjualan tiket konser sudah dimulai. Sementara penjualan tiket publik dilakukan pada 19 Mei 2023 dan dijual mulai pukul 10.00 WIB,”

Tak tanggung-tanggung tiket konser Coldplay dibanderol mulai dari harga Rp 800 ribu sampai paket dengan harga termahal sebesar Rp 11 juta untuk kelas Ultimate Experience.

Adapun keuntungan Pemegang tiket Ultimate Experience dengan kategori termahal adalah paket khusus untuk tiket kategori satu yang mendapatkan akses menuju backstage, mendapatkan akses ke panggung untuk foto, masuk ke venue dengan nyaman hingga merchandise. Dikutip dari: www.kaltimpost.jawapost.com

Mirisnya, walau harga tiket terbilang sangat mahal masyarakat tetap semangat berburu tiket konser tersebut. Sampai saat ini tak terhitung lagi jumlah tiket yang telah terjual sebab pembayaran tiket konser Coldplay hanya dibuka melalui rekening BCA.

Hal yang lebih miris adalah adanya jasa titip (jastip) pembelian tiket konser mulai marak yang disinyalir dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk membeli tiket konser melalui pinjaman online. Padahal bisa dipastikan setelah pergelaran konser tersebut bukan bahagia yang didapatkan melainkan stress karena harus memikirkan cara pengembalian pinjaman sebelumnya. Dikutip dari: www.bismis.tempo.com

Baca Juga  Perlunya Pendidikan Berbasis Moderasi dalam Menghadapi Tantangan Ekstremisme Agama

Inilah buah penerapan sistem kapitalisme, negara yang seharusnya menjadi pelindung dan penjaga umat malah menjadi fasilitator terselenggaranya konser Coldplay tersebut. Dengan alasan memberi dampak ekonomi bagi pelaku UMKM. Padahal yang paling diuntungkan dari pergelaran konser itu adalah pengusaha besar terutama di bagian bisnis perbankan, hotel, penyelenggara konser, transportasi, dan lain-lain. Adapun UMKM tidak lain sekadar mendapatkan tetesan ekonomi semata.

Sistem kapitalisme juga membuat umat Islam bekerja keras pada kapitalis pemilik perusahaan-perusahaan besar. Kita mendapatkan gaji lalu membelanjakan lagi untuk membeli produk para kapitalis tersebut. ketika hendak melepaskan stres dari rutinitas kerja yang penuh tekanan misalnya dengan menonton konser, uangnya masuk ke rekening kapitalis juga. Maka bisa dipastikan begitu banyak dana masyarakat yang diambil oleh para kapitalis tak terkecuali umat Islam.

Inilah bukti sistem kapitalis begitu diuntungkan. Dalam sekejap mereka mampu menjadi Crazy rich. Sementara masyarakat selepas menonton konser justru harus kembali melakukan rutinitas kerja yang penuh tekanan. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang stres karena harus membayar utang maupun cicilan. Sumber: MuslimahNews.Com

Baca Juga  Cinta Berujung Malapetaka

Pada aspek yang lebih luas, konser Coldplay juga menjadi bukti matinya empati penyelenggara dan pihak pemberi izin terhadap problem kehidupan masyarakat saat ini. Beberapa masalah tersebut diantaranya adalah kemiskinan, stunting, pengangguran, dan berbagai persoalan lainnya. Selain itu, antusiasme masyarakat membeli tiket konser dengan harga yang terbilang mahal tersebut menunjukkan tingginya kesenjangan sosial yang terjadi di negeri ini, di mana yang kaya akan mampu membeli sementara yang berada di kelas ekonomi bawah tidak akan mampu.

Inilah ironi negara yang menerapakan sistem kapitalisme hanya menjadi regulator atau pembuat kebijakan yang lagi-lagi untuk memenuhi kepentingan para kapitalis seperti industri hiburan. Sebab pandangan sistem ekonomi kapitalisme adalah selama ada permintaan yang mendatangkan keuntungan maka produksi atau pengadaan permintaan tersebut akan diberi ruang sekalipun pengadaannya merusak moral masyarakat atau ada unsur keharaman di dalamnya. Sistem kapitalisme-liberal sangat berhasil menjatuhkan taraf bepikir umat ke taraf yang sangat rendah.

Berbeda dalam sistem Islam yang disebut Khilafah, sistem Islam memandang negara berkewajiban untuk meriayah atau mengurus urusan umat dalam hal memenuhi kebutuhan asasi warga negaranya seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan akan dipenuhi negara dengan berbagai mekanisme salah satunya membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi rakyatnya yang mampu bekerja. Bagi yang lemah dan terkendala secara fisik maka negara akan memberikan santunan.

Baca Juga  "Utang Aman Dan Terkendali Adalah Pernyataan Berbahaya"

Sementara yang terkait dengan kesehatan, pendidikan dan pelayanan fasilitas publik. Negara akan memenuhi semua kebutuhan itu dengan standar pelayanan terbaik, cepat, mudah, profesional, serta gratis. Bukan saja kebutuhan asasi, negara juga akan memudahkan rakyatnya memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier hal ini untuk meningkatkan kualitas hidup warga negaranya sebagai khairu ummah atau umat terbaik sehingga berhak mendapatkan pelayanan dengan kualitas terbaik.

Selain itu, negara akan bersandar pada aqidah Islam yang akan menjamin keberkahan sehingga tidak akan membiarkan adanya aktivitas dan peredaran barang haram di tengah-tengah umat walaupun secara materi mampu mendatangkan keuntungan.

Dalam hal pelaksanaan pendidikan yang berbasis aqidah Islam juga akan melahirkan generasi bervisi dunia dan akhirat. Sehingga mereka akan menjadi individu masyarakat yang beriman dan bertakwa. Hasilnya adalah akan terlahir generasi yang menyibukkan diri dalam amal shalih bukan sibuk menikmati hidup dengan berbagai kemaksiatan. Mereka juga akan menjadi orang yang memahami skala prioritas amal dan memiliki empati tinggi atas nasib sesama. Rasulullah saw bersabda,

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)

Demikianlah keagungan sistem Islam yang akan memuliakan manusia sekaligus akan membangun peradaban mulia kelak. Wallahu A’lam Biasahwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *