Nilai Filosofi Kacaping yang Sarat Makna, Dikupas dalam Kegiatan Festival Sipamandar

Kegiatan workshop Kacaping ( foto: paceko kreatif)

Majene-MATASULBAR.COM— Kegiatan Festival Sipamandar yang dilaksanakan oleh penggiat dan pelaku Budaya Lintas Komunitas bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Majene, didukung oleh Program Indonesiana Platform Kebudayaan Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (Dit.PTLK) Kemendikbud Ristek R.I.

Kegiatan ini dilaksanakan di Dapur Mandar Pamboang Kec. Pamboang ( 05/07/2023)

Perkembangan kondisi kekinian musik tradisional kacapi sebagai bagian dari tradisi lisan, menjadi tema utama yang dibawakan Drs.Hamza Hamid M.Pd. selaku pemateri.

Baca Juga  Perlunya Pendidikan Berbasis Moderasi dalam Menghadapi Tantangan Ekstremisme Agama

Hamza Hamid yang juga dikenal sebagai salah satu pemerhati budaya Daerah Mandar berhasil berbagi ilmu saat menerangkan nilai-nilai filosofi yang terkandung pada seluruh rangkaian kacapi.

“Iya berdasarkan model serta fungsi yang ada dalam komponennya, Kacapi juga memiliki nilai filosofi yang sarat makna, sehingga kita perlu melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya leluhur kita ini, iya salah satunya seperti pada kegiatan kita hari ini,” tuturnya.

Baca Juga  Penerimaan Hadiah Perlombaan 17 Agustus di Kelurahan Lembang

Nyanyian atau lagu dalam pakkacaping terdiri dari : toloq ( cerita rakyat ), tere atau sindiran kepada muda-mudi bisa juga untuk sindiran umum, dan juga untuk permasalahan agama,” jelasnya.

Baca Juga  Hampir Menjadi Korban Terduga Penjahat Kelamin, Mashasiswi Unsulbar Bagikan Keresahannya

Selanjutnya ditempat yang sama, Masdar yang juga sebagai pelaku seni budaya menitipkan harapan agar musik tradisional pakkacaping ini dapat terus diminati oleh generasi muda sebagai pelanjut agar tetap dilestarikan dan dapat dikembangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *